Dewan Kesenian Metro

SERBU XVII IMPAS JUSILA UIN Jurai Siwo Metro Tampilkan Pertunjukan “Kita Manusia” sebagai Refleksi Kemanusiaan di Era Kecerdasan Buatan

[Metro, 18 Juli 2025] Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Ikatan Mahasiswa Pecinta Seni (IMPAS) Universitas Islam Negeri (UIN) Jurai Siwo Lampung kembali menyelenggarakan agenda tahunan bertajuk Semarak Anggota Baru (SERBU) Jilid XVII, pada Jumat, 18 Juli 2025, bertempat di Gedung Nuwo Budayo, Kota Metro. Kegiatan ini menghadirkan pertunjukan sendratasik bertema Kita Manusia, sebagai media refleksi atas kegelisahan eksistensial manusia di tengah gelombang perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin menggeser nilai-nilai kemanusiaan.

Sendratasik Kita Manusia mengangkat kisah tentang benturan batin manusia di tengah kehidupan modern yang terjerat oleh piksel dan logika mesin. Dunia yang digambarkan futuristik dalam pertunjukan ini mengajak penonton merenungkan kembali ingatan terhadap warisan nilai-nilai yang sederhana, namun mulai terlupakan. Pertunjukan ini menekankan bahwa dalam sunyi dan hal-hal kecil yang tidak lagi tampak, justru tersimpan makna dan akar kemanusiaan yang mendalam. Melalui simbol teatrikal yang kuat, pertunjukan ini menyuarakan keresahan kolektif atas dominasi teknologi yang mengancam aspek afeksi, empati, dan etika sosial.

Source UKM IMPAS JUSILA UIN Jurai Siwo Lampung

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni UIN Jurai Siwo Lampung, Prof. Dr. Akla, M.Pd. mewakili rektor UIN Jurai Siwo Lampung, yang menyatakan bahwa ruang seni dan budaya merupakan wadah penting bagi mahasiswa untuk menyuarakan gagasan dan refleksi kritis. “Kreativitas mahasiswa harus terus difasilitasi dan dikembangkan melalui kolaborasi lintas elemen. Di sinilah peran seni menjadi pengikat nalar dan nurani,” ujar beliau dalam sambutannya.

Source UKM IMPAS JUSILA UIN Jurai Siwo Lampung

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Kota Metro, Solihin Utjok, dalam sambutan pembukaan acara, menyampaikan apresiasi terhadap komitmen IMPAS. Ia menegaskan bahwa seni adalah penjaga nurani masyarakat. “Serbu ini membuktikan bahwa dalam situasi apa pun termasuk di tengah kemajuan teknologi seni tetap menjadi penjaga nurani kita,” ungkapnya.

Source UKM IMPAS JUSILA UIN Jurai Siwo Lampung

Pertunjukan Kita Manusia melibatkan kolaborasi kreatif dari tim produksi yang solid. Disutradarai oleh Amerta, sendratasik ini dikawal oleh pimpinan produksi Shobana dan stage manager oleh Kavindra. Koreografi ditata oleh Kara, dengan musik yang dikomposisikan oleh Diraya. Tata panggung dan cahaya dikoordinasikan oleh Gaco, sementara tata busana dan artistik digarap oleh Niscala. Aktor diperankan oleh Gebang, Sungkai, Randu, Kara, Gangga, Chano, Kuin, Shobana, Deepa, Arenga, Pawan, Sampara, Musi, dan Rhein.

Melalui adegan-adegan simbolik, pertunjukan ini juga menyiratkan kritik terhadap lambannya regulasi dan kebijakan pemerintah dalam menyikapi dampak sosial dari perkembangan AI. Salah satu kutipan dalam dialog berbunyi, “Ketika pemerintah belum memiliki payung hukum yang jelas atas AI, siapakah yang akan memikul tanggung jawab terhadap kerusakan sosial dan moral yang ditimbulkan?”

Melalui SERBU XVII, mahasiswa IMPAS menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium strategis untuk menyampaikan suara-suara kritis dan merawat kesadaran publik. Di tengah kemajuan zaman, Kita Manusia menjadi pengingat bahwa nalar dan nurani tidak boleh digantikan oleh sekadar algoritma dan kecepatan data.

Redaktur: Dwi Kurniawan | Editor: Amin Budi Utomo

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top