Dewan Kesenian Metro

Teater Meraki & Teater Malam Persembahkan: “Nyanyian Angsa” Karya Anton ChekhovMenerjemahkan Kesunyian Menjadi Suara dalam Panggung Teater HATEDU12

Sumber Teater Meraki dan Teater Malam

Surakarta, Juli 2025 – Dua kelompok teater independen dari Lampung, Teater Meraki dan Teater Malam, menghadirkan pementasan kolaboratif bertajuk “Nyanyian Angsa”*1. di adaptasi dari karya klasik Anton Chekhov pertunjukan dilaksanakan di 2 kota yaitu Salatiga berlokasi di  Rumah Semut Geni, Kalilondo, Sudoreko Kidul, Salatiga pada 5 Juli 2025 pukul 19:30 WIB serta di
Surakarta berlokasi di Teater Arena, Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta pada 9 Juli 2025 pukul 19:30 WIB. Pertunjukan ini menjadi panggung kontemplasi tentang usia senja, kesendirian, dan makna seni itu sendiri. Pementasan ini menjadi bagian dari lanjutan kerja kreatif kedua kelompok setelah sebelumnya Teater Malam hadir dalam program HATEDU #12

“Nyanyian Angsa” mengisahkan seorang aktor tua yang merenungi hidup dan kesepiannya dalam panggung kosong. Dalam versi Teater Meraki dan Teater Malam, naskah ini dihidupkan kembali dengan adaptasi dari karya klasik Anton Chekhov. Pementasan ini menjadi pertemuan dua energi kreatif yang menafsirkan ulang sebuah naskah kontemplatif dalam konteks yang lebih dekat dan relevan bagi penonton masa kini.

Kolaborasi Teater Meraki dan Teater Malam bukanlah tanpa jejak. Keduanya tumbuh bersama dalam semangat kerja kreatif yang kuat. Bagi mereka, proses berkesenian bukan tentang hasil semata, melainkan perjalanan yang dijalani dengan prinsip. Mengutip dari bangkit dunham, ia mengatakan

“Tentu langkah pasti mewujudkan keinginan yang berarti ada upaya lebih untuk merealisasikan. Satu hal yang kami yakini ‘Diawur Wae’. Spirit of java Menjadi bekal untuk kami terus berkembang dan berupaya”. Ucapnya.

“Diawur Wae”—sebuah sikap hidup dalam berkesenian yang menekankan keberanian untuk melangkah meski tanpa kepastian, dan kesiapan untuk terus belajar dalam ruang yang cair dan dinamis.  bukan tentang sembrono, tapi justru tentang keyakinan bahwa proses itu lebih utama dari hasil. Teater adalah tempat kita jatuh, belajar, dan bangkit lagi,” ujar salah satu anggota Teater Malam.

Didukung oleh para seniman muda, tim teknis, serta komunitas kreatif dari berbagai kota, pertunjukan ini menjadi simbol dari kekuatan kolektif dan lintas gagasan. Pementasan “Nyanyian Angsa” juga menjadi upaya untuk menjembatani karya klasik dengan audiens masa kini, tanpa kehilangan esensi aslinya.

Susunan Tim: Sutradara: Kelana Senja, Pemeran: Duma, Pimpinan Produksi: Sari Yunis, Manajer Produksi: Bangkit Budi Perwira, Musik & Tata Artistik: Kolaborasi Teater Meraki & Teater Malam, Dokumentasi Visual: @raflianumaii dan tim. Pementasan ini juga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk Rumah Seni Semut Geni, Teater Teras Sabin Salatiga, Sala HaleDu, dan Bravo Film.

Sumber Teater Meraki dan Teater Malam

Tentang Karya:
“Nyanyian Angsa” (The Swan Song) merupakan naskah pendek karya Anton Chekhov (1887), yang menggambarkan seorang aktor veteran yang merenungi hidupnya di panggung kosong. Karya ini sering dianggap sebagai simbol refleksi akhir perjalanan seorang seniman.

Kontributor berita :

Amin Budi Utomo – Lamban Budaya Nuswantara

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top