
Modernitas bergerak dengan kecepatan yang sering kali tak memberi ruang bagi jeda dan perenungan. Perubahan teknologi, pola hidup, hingga selera estetika berjalan begitu cepat, sementara nilai-nilai yang tumbuh dari pengetahuan lokal justru perlahan kehilangan tempatnya.
Di banyak ruang, kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman masyarakat tradisional kini sering dianggap usang, atau bahkan tidak relevan dengan kehidupan masa kini.
Pertanyaan penting pun muncul: bagaimana pengetahuan lokal dapat bertahan di tengah derasnya arus perubahan zaman? Apakah nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi masih mampu berbicara dalam bahasa dunia yang serba cepat? Pertanyaan itu menjadi pokok pembahasan dalam seminar seni bertema “Pengetahuan Lokal Berhadapan dengan Arus Cepat Perubahan Zaman”.
Dua narasumber utama—Anshori Djausal, perupa dan akademisi seni rupa, serta Iswadi Pratama, penyair dan pendiri Teater Satu Lampung—hadir untuk membicarakan persoalan mendasar ini dengan kedalaman dan kejujuran yang khas dunia seni.
Nilai Lokal sebagai Arah dan Landasan

Dalam pemaparannya, Anshori Djausal menegaskan bahwa pengetahuan lokal bukanlah bagian dari masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan fondasi yang membantu masyarakat menghadapi masa depan. Ia menolak anggapan bahwa globalisasi harus diartikan sebagai penyeragaman. “Kita bisa menjadi bagian dari dunia modern tanpa kehilangan identitas,” ujarnya.
Menurutnya, pengetahuan lokal berisi nilai-nilai praktis dan filosofis yang dibangun dari pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan. Dalam konteks seni, nilai-nilai itu bisa menjadi sumber inspirasi yang otentik. “Seni yang berakar pada pengalaman lokal akan lebih jujur,” katanya, “karena ia tumbuh dari realitas sosial dan alam yang kita kenal.”
Anshori juga menyoroti kecenderungan generasi muda yang sering terpesona oleh bentuk dan gaya dari luar, tetapi kurang memahami konteks budaya sendiri. Ia tidak menolak perubahan, tetapi mengingatkan pentingnya kesadaran asal-usul. “Seni dan budaya selalu berkembang, namun perkembangan itu sebaiknya berangkat dari pemahaman terhadap nilai yang sudah ada,” tuturnya.
Baginya, pengetahuan lokal bukan sekadar simbol atau ornamen yang ditempelkan dalam karya seni, tetapi cara berpikir yang mengandung logika tersendiri. “Kalau kita kehilangan cara berpikir lokal, kita kehilangan keseimbangan dalam memandang hidup,” tegasnya.
Keseimbangan antara Tradisi dan Modernitas Berbeda dari Anshori yang berbicara dari sudut pandang seni rupa, Iswadi Pratama melihat persoalan pengetahuan lokal melalui pengalaman teater dan sastra.

Ia memulai dengan pengamatan sederhana: bahwa dunia kini bergerak terlalu cepat, sementara kebudayaan membutuhkan waktu untuk tumbuh. “Kita hidup di masa yang sibuk,” ujarnya, “tapi justru di tengah kesibukan itu, kita perlu menemukan ruang untuk mendengar diri sendiri.
Iswadi menilai bahwa pengetahuan lokal sering kali diabaikan bukan karena tidak relevan, melainkan karena cara pandang modern yang menempatkan segala sesuatu pada ukuran efisiensi. “Kearifan lokal itu tidak efisien dalam ukuran ekonomi, tapi ia efisien dalam menjaga keseimbangan hidup,” katanya.
Dalam teater, ia terus berupaya menggali cerita rakyat, bahasa daerah, dan pengalaman lokal sebagai sumber penciptaan. Namun ia menolak anggapan bahwa kembali ke lokal berarti menolak kemajuan. “Tradisi bukan museum,” ujarnya, “tradisi adalah pengetahuan yang terus bergerak.”
Iswadi menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara warisan nilai dan kebutuhan zaman. Menurutnya, seniman perlu membaca ulang nilai-nilai lokal agar dapat diterjemahkan dalam bentuk yang relevan dengan masa kini. “Kita tidak harus meniru bentuk lama,” katanya, “tetapi kita perlu memahami makna yang melandasinya.”
Dialog yang Menghidupkan Kesadaran

Sesi tanya jawab berlangsung dinamis. Mahasiswa dan pelaku seni muda mengajukan berbagai pertanyaan: bagaimana seni bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini? Bagaimana peran pendidikan seni dalam menanamkan nilai kearifan lokal di tengah budaya global?
Anshori menjawab bahwa pendidikan seni seharusnya tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis, tetapi juga membentuk kesadaran budaya. “Seni bukan sekadar keterampilan membuat sesuatu yang indah,” katanya, “tetapi juga cara memahami kehidupan.”
Iswadi menambahkan bahwa pengetahuan lokal dapat menjadi sumber kekuatan moral bagi seniman. “Kita boleh belajar dari luar, tapi harus tahu di mana kita berdiri,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa globalisasi tidak harus berarti kehilangan identitas, melainkan kesempatan untuk memperkenalkan nilai lokal kepada dunia.
Dari dialog itu tampak bahwa persoalan utama bukan pada apakah pengetahuan lokal masih relevan, tetapi pada sejauh mana masyarakat memberi ruang untuk menghidupkannya kembali.
Menjaga Kesadaran di Tengah Perubahan

Seminar itu ditutup dengan suasana reflektif. Tidak ada kesimpulan tunggal, karena memang tidak ada rumus pasti untuk menghadapi perubahan zaman. Namun, dari paparan kedua narasumber, muncul kesadaran bersama bahwa pengetahuan lokal memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan hidup di tengah derasnya arus modernitas.
Pengetahuan lokal bukan romantisme masa lalu, melainkan sumber nilai yang bisa memberi arah pada kehidupan modern. Ia mengajarkan manusia untuk tidak hanya berpikir cepat, tetapi juga berpikir dalam. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa kemajuan teknologi dan keterbukaan informasi perlu diimbangi dengan kedalaman makna.
Seminar ini menunjukkan bahwa seni dan kebudayaan masih memiliki peran penting dalam menjaga identitas masyarakat. Ketika globalisasi menuntut semua hal menjadi seragam, justru dari pengetahuan lokal kita bisa menemukan keunikan yang memperkaya keberagaman dunia.
Perubahan zaman adalah keniscayaan, tetapi kehilangan arah bukanlah keharusan. Pengetahuan lokal dapat menjadi kompas moral dan kultural yang membantu masyarakat menavigasi arus global. Ia tidak menolak perubahan, tetapi menuntut agar perubahan itu tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan yang sudah teruji oleh waktu.
Dari perbincangan Anshori Djausal dan Iswadi Pratama, kita belajar bahwa menjadi modern tidak harus berarti meninggalkan akar. Sebaliknya, semakin kita memahami akar, semakin kuat kita menghadapi perubahan.

Mungkin inilah makna terdalam dari seminar tersebut: bahwa menjaga pengetahuan lokal bukan sekadar tugas akademik atau proyek kebudayaan, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara ingatan dan masa depan. Sebab, di tengah arus zaman yang serba cepat, pengetahuan lokal mengingatkan kita untuk tidak hanya berjalan lebih jauh, tetapi juga tetap tahu arah pulang.
Ditulis : Raditio Wahid
Pemeriksa : Amin Budi Utomo